Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Dukungan Kebijakan, Peningkatan Kesejahteraan, dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, saat meninjau Posyandu 6 SPM Wijaya Kusuma di Balai RW 4, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Rabu, 23 September 2026.
Menurut Eddy, Posyandu memiliki posisi strategis karena pelayanan diberikan langsung kepada masyarakat. Karena itu, penguatan Posyandu menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan stunting.
“Posyandu itu dapat menjangkau masyarakat secara langsung. Jadi intinya ini adalah ujung tombak yang diharapkan mampu berkontribusi optimal dalam penurunan stunting,” ujar Eddy.
Penanganan Stunting Tidak Hanya Soal Gizi
Eddy menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi gizi. Penanganannya membutuhkan kerja sama lintas sektor karena kondisi tumbuh kembang anak juga berkaitan dengan sanitasi, lingkungan, air bersih, perumahan, pendidikan, serta pola konsumsi keluarga.
Beberapa aspek yang perlu diperkuat dalam penanganan stunting antara lain :
- Pemantauan pertumbuhan dan kesehatan anak melalui Posyandu.
- Pemenuhan kebutuhan gizi anak dan keluarga.
- Perbaikan sanitasi dan lingkungan tempat tinggal.
- Penguatan akses terhadap air bersih.
- Perbaikan kondisi perumahan keluarga.
- Peningkatan edukasi dan pengetahuan keluarga.
- Integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B dengan data pelayanan masyarakat.
Pemerintah pusat juga melakukan peninjauan langsung untuk mengetahui apakah berbagai program yang telah disusun benar-benar berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Eddy menyebut keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan dari perumusan program, tetapi juga dari pelaksanaannya di lapangan. Karena itu, kendala yang ditemukan di Posyandu perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan dan pelayanan.
Pemerintah Dorong Integrasi Data Posyandu dan MBG 3B
Sekretaris Kemendukbangga sekaligus Sekretaris Utama BKKBN, Prof. Dr. Budi Setiyono, mengatakan salah satu tantangan dalam pelayanan Posyandu adalah integrasi data.
Posyandu menjalankan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Namun, data pelayanan tersebut masih dapat berjalan secara sektoral sehingga belum seluruhnya dapat diakses dan dimanfaatkan secara lintas sektor.
Pemerintah mendorong terbentuknya satu ekosistem data terpadu agar tidak terjadi tumpang tindih pelayanan maupun kekurangan layanan bagi masyarakat.
“Jadi masing-masing sektor bergerak hanya satu sistem, nah kita akan ciptakan satu sistem yang terpadu, sehingga tidak ada lagi tumpang tindih berkaitan dengan kekurangan layanan,” ujar Budi.
Integrasi data tersebut juga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B. Dengan data yang lebih terintegrasi, sasaran program dan kebutuhan masyarakat dapat dipetakan secara lebih baik.
Budi menilai ekosistem penanganan stunting di Kota Semarang sebenarnya sudah terbentuk secara sistematis. Mulai dari pendataan, pelayanan hingga pelaporan telah berjalan dan dapat terus diperkuat melalui integrasi antarsektor.
Lele Candi Semarang Jadi Andalan Bantu Lawan Stunting
Budidaya lele di Kelurahan Candi, Kota Semarang, menjadi salah satu upaya warga dalam membantu memenuhi kebutuhan gizi anak stunting. Hal itu terlihat saat rombongan pemerintah pusat meninjau kegiatan budidaya lele yang dikembangkan Pokdakan Mina Candi 3.
Budidaya lele tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan ikan konsumsi sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebagian hasil panen juga dimanfaatkan untuk mendukung penanganan stunting, khususnya bagi anak-anak di wilayah Kelurahan Candi.
Ketua Pokdakan Mina Candi 3, Agus Setyobudi, mengatakan kelompok tersebut dibentuk pada 2022 bersama LPMK Kelurahan Candi. Salah satu kegiatan utamanya adalah mendukung program penanganan stunting melalui pemanfaatan hasil budidaya ikan lele.
Saat ini, terdapat 18 anak yang menjadi penerima manfaat. Bantuan diberikan secara berkala berupa ikan lele hasil panen yang kemudian diolah agar lebih mudah dikonsumsi oleh anak. Program ini menjadi bagian dari pemanfaatan potensi budidaya ikan warga untuk mendukung pemenuhan gizi anak di Kelurahan Candi.
Lele Diolah Menjadi Beragam Produk
Agar lebih menarik bagi anak-anak, lele hasil panen tidak hanya diberikan dalam bentuk ikan segar. Kelompok PKK turut membantu mengolahnya menjadi berbagai produk makanan.
Produk olahan yang dikembangkan antara lain :
- Lele marinasi.
- Olahan daging lele.
- Cendol atau dawet berbahan dasar lele.
Untuk membuat cendol berbahan lele, ikan berukuran besar terlebih dahulu di-fillet untuk mengambil dagingnya. Daging kemudian diolah menjadi adonan cendol melalui proses tertentu untuk mengurangi aroma amis.
Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sumber pangan lokal dapat dikembangkan untuk mendukung pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perikanan.
Produksi Lele Mina Candi 3 Capai Satu Ton Per Bulan
Produksi lele Mina Candi 3 di Kelurahan Candi, Kota Semarang, mencapai sekitar satu ton setiap bulan. Budidaya tersebut dikembangkan secara produktif dengan memanfaatkan enam kolam aktif yang dikelola oleh anggota kelompok.
Setiap kolam mampu menampung sekitar 10 ribu ekor lele. Untuk menjaga pertumbuhan ikan, perawatan dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Pengelolaan kualitas air juga menjadi perhatian dalam proses budidaya.
Air kolam dikurangi secara berkala untuk membantu mengendalikan kadar amonia. Setelah kondisi air dikelola, ikan kembali diberi pakan sesuai kebutuhan. Proses perawatan tersebut dilakukan secara rutin untuk menjaga kondisi ikan hingga siap dipanen.
Dalam satu bulan, Mina Candi 3 mampu menghasilkan sekitar satu ton lele. Panen dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan dan permintaan. Hasil produksi tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga dipasarkan ke sejumlah restoran.
Pemasaran hasil panen kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP). Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses pasar bagi hasil budidaya lele kelompok.
Saat ini, Mina Candi 3 beranggotakan 11 orang. Kegiatan budidaya juga melibatkan warga lanjut usia sehingga tidak hanya menjadi kegiatan ekonomi, tetapi turut menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Candi.
Dukungan Budidaya Lele Masih Dibutuhkan
Pengembangan Mina Candi 3 mendapat dukungan dari Dinas Perikanan pada 2024 berupa kolam budidaya, benih lele dan pakan.
Namun, keberlanjutan produksi masih membutuhkan dukungan, khususnya untuk penyediaan benih dan pakan. Agus mengatakan biaya pakan menjadi salah satu komponen terbesar dalam budidaya lele.
“Lebih dari 70 persen biaya budidaya untuk pakan. Kami berharap ada bantuan benih dan pakan,” kata Agus.
Ia berharap dukungan serupa dapat diperluas ke wilayah Kecamatan Candisari maupun kelompok budidaya ikan lainnya di Kota Semarang.
Kolaborasi Posyandu dan BKKBN Diperkuat untuk Percepat Penurunan Stunting
Kolaborasi Posyandu dan BKKBN dinilai memiliki peran penting dalam mempercepat penurunan stunting di Kota Semarang. Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Ir. Rusman Effendi, mengatakan sinergi kedua layanan tersebut dapat memperkuat pendampingan bagi keluarga dan anak.
Kolaborasi dilakukan salah satunya melalui program Bina Keluarga Balita (BKB). Posyandu berperan dalam memantau pertumbuhan anak, sementara program BKKBN turut memberikan perhatian terhadap perkembangan anak serta pembinaan keluarga. Sinergi tersebut diharapkan membuat pelayanan kepada keluarga menjadi lebih menyeluruh.
Setelah meninjau Posyandu 6 SPM Wijaya Kusuma dan budidaya lele Mina Candi 3, Eddy Cahyono Sugiarto bersama Budi Setiyono melanjutkan agenda sosialisasi pembinaan penyuluhan KB/PLKB dan Tim Pendamping Keluarga.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi lintas program dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Pendampingan keluarga, pemantauan tumbuh kembang anak, serta edukasi menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.
Melalui penguatan peran Posyandu, BKKBN, penyuluh KB/PLKB, dan Tim Pendamping Keluarga, pelayanan kepada keluarga diharapkan semakin terintegrasi. Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendukung upaya penanganan stunting secara berkelanjutan di Kota Semarang.
Data Stunting Jawa Tengah Jadi Perhatian
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar 178.600 anak tercatat mengalami stunting.
Data penimbangan Agustus 2026 mencatat sejumlah daerah dengan angka stunting yang masih menjadi perhatian, antara lain :
- Wonosobo : 17,67 persen atau 8.043 anak.
- Purworejo : 16,51 persen.
- Banjarnegara : 15,11 persen.
- Magelang : 15,09 persen.
- Tegal : 14,55 persen.
- Kota Semarang : 4,26 persen atau 3.158 anak.
Data tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan intervensi dan memastikan program penanganan stunting menyasar kelompok yang membutuhkan.
Posyandu Didorong Semakin Terintegrasi untuk Percepat Penanganan Stunting
Posyandu didorong semakin terintegrasi dalam mendukung percepatan penanganan stunting di tingkat kelurahan. Kunjungan pemerintah pusat ke Kelurahan Candi menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting membutuhkan kolaborasi berbagai sektor, mulai dari Posyandu, BKKBN, MBG 3B, sanitasi, perumahan, pendidikan hingga ketahanan pangan.
Posyandu menjadi salah satu titik pelayanan masyarakat yang berperan dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Di sisi lain, budidaya lele Mina Candi 3 menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi juga dapat memanfaatkan potensi pangan lokal. Hasil budidaya warga tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi turut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan anak.
Penguatan Posyandu, integrasi data, serta pemanfaatan potensi pangan lokal menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya penurunan stunting. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pelayanan dan pendampingan kepada keluarga dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dengan pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat dan dukungan data yang terintegrasi, Posyandu diharapkan semakin mampu menjalankan peran strategis sebagai ujung tombak pelayanan dasar sekaligus mendukung percepatan penanganan stunting di tingkat kelurahan.
Kesimpulan
Upaya percepatan penanganan stunting di Kota Semarang membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan melibatkan berbagai sektor. Posyandu menjadi salah satu ujung tombak karena memiliki akses langsung kepada masyarakat untuk memantau pertumbuhan anak, memberikan edukasi, serta mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dan gizi keluarga sejak dini.
Penguatan Posyandu perlu didukung oleh integrasi data lintas sektor, kolaborasi dengan BKKBN, penyuluh KB/PLKB, Tim Pendamping Keluarga, serta keterhubungan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B. Penanganan stunting juga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi mencakup sanitasi, air bersih, lingkungan, perumahan, pendidikan, dan pemberdayaan keluarga.
Di Kelurahan Candi, pemanfaatan budidaya lele oleh Pokdakan Mina Candi 3 menunjukkan bahwa potensi pangan lokal dapat menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat. Produksi sekitar satu ton lele per bulan, termasuk yang dimanfaatkan untuk 18 anak penerima manfaat, menjadi contoh kolaborasi antara ketahanan pangan masyarakat dan penanganan stunting.
Dengan demikian, percepatan penurunan stunting memerlukan sinergi antara pelayanan kesehatan berbasis Posyandu, data yang terintegrasi, pendampingan keluarga, serta pemanfaatan potensi pangan lokal. Kolaborasi yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat penanganan stunting hingga tingkat kelurahan.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Dukungan Kebijakan, Peningkatan Kesejahteraan, dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto, saat meninjau Posyandu 6 SPM Wijaya Kusuma di Balai RW 4, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Rabu, 23 September 2026.
Menurut Eddy, Posyandu memiliki posisi strategis karena pelayanan diberikan langsung kepada masyarakat. Karena itu, penguatan Posyandu menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan stunting.
“Posyandu itu dapat menjangkau masyarakat secara langsung. Jadi intinya ini adalah ujung tombak yang diharapkan mampu berkontribusi optimal dalam penurunan stunting,” ujar Eddy.
Penanganan Stunting Tidak Hanya Soal Gizi
Eddy menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi gizi. Penanganannya membutuhkan kerja sama lintas sektor karena kondisi tumbuh kembang anak juga berkaitan dengan sanitasi, lingkungan, air bersih, perumahan, pendidikan, serta pola konsumsi keluarga.
Beberapa aspek yang perlu diperkuat dalam penanganan stunting antara lain :
- Pemantauan pertumbuhan dan kesehatan anak melalui Posyandu.
- Pemenuhan kebutuhan gizi anak dan keluarga.
- Perbaikan sanitasi dan lingkungan tempat tinggal.
- Penguatan akses terhadap air bersih.
- Perbaikan kondisi perumahan keluarga.
- Peningkatan edukasi dan pengetahuan keluarga.
- Integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B dengan data pelayanan masyarakat.
Pemerintah pusat juga melakukan peninjauan langsung untuk mengetahui apakah berbagai program yang telah disusun benar-benar berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Eddy menyebut keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan dari perumusan program, tetapi juga dari pelaksanaannya di lapangan. Karena itu, kendala yang ditemukan di Posyandu perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan dan pelayanan.
Pemerintah Dorong Integrasi Data Posyandu dan MBG 3B
Sekretaris Kemendukbangga sekaligus Sekretaris Utama BKKBN, Prof. Dr. Budi Setiyono, mengatakan salah satu tantangan dalam pelayanan Posyandu adalah integrasi data.
Posyandu menjalankan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Namun, data pelayanan tersebut masih dapat berjalan secara sektoral sehingga belum seluruhnya dapat diakses dan dimanfaatkan secara lintas sektor.
Pemerintah mendorong terbentuknya satu ekosistem data terpadu agar tidak terjadi tumpang tindih pelayanan maupun kekurangan layanan bagi masyarakat.
“Jadi masing-masing sektor bergerak hanya satu sistem, nah kita akan ciptakan satu sistem yang terpadu, sehingga tidak ada lagi tumpang tindih berkaitan dengan kekurangan layanan,” ujar Budi.
Integrasi data tersebut juga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B. Dengan data yang lebih terintegrasi, sasaran program dan kebutuhan masyarakat dapat dipetakan secara lebih baik.
Budi menilai ekosistem penanganan stunting di Kota Semarang sebenarnya sudah terbentuk secara sistematis. Mulai dari pendataan, pelayanan hingga pelaporan telah berjalan dan dapat terus diperkuat melalui integrasi antarsektor.
Lele Candi Semarang Jadi Andalan Bantu Lawan Stunting
Budidaya lele di Kelurahan Candi, Kota Semarang, menjadi salah satu upaya warga dalam membantu memenuhi kebutuhan gizi anak stunting. Hal itu terlihat saat rombongan pemerintah pusat meninjau kegiatan budidaya lele yang dikembangkan Pokdakan Mina Candi 3.
Budidaya lele tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan ikan konsumsi sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebagian hasil panen juga dimanfaatkan untuk mendukung penanganan stunting, khususnya bagi anak-anak di wilayah Kelurahan Candi.
Ketua Pokdakan Mina Candi 3, Agus Setyobudi, mengatakan kelompok tersebut dibentuk pada 2022 bersama LPMK Kelurahan Candi. Salah satu kegiatan utamanya adalah mendukung program penanganan stunting melalui pemanfaatan hasil budidaya ikan lele.
Saat ini, terdapat 18 anak yang menjadi penerima manfaat. Bantuan diberikan secara berkala berupa ikan lele hasil panen yang kemudian diolah agar lebih mudah dikonsumsi oleh anak. Program ini menjadi bagian dari pemanfaatan potensi budidaya ikan warga untuk mendukung pemenuhan gizi anak di Kelurahan Candi.
Lele Diolah Menjadi Beragam Produk
Agar lebih menarik bagi anak-anak, lele hasil panen tidak hanya diberikan dalam bentuk ikan segar. Kelompok PKK turut membantu mengolahnya menjadi berbagai produk makanan.
Produk olahan yang dikembangkan antara lain :
- Lele marinasi.
- Olahan daging lele.
- Cendol atau dawet berbahan dasar lele.
Untuk membuat cendol berbahan lele, ikan berukuran besar terlebih dahulu di-fillet untuk mengambil dagingnya. Daging kemudian diolah menjadi adonan cendol melalui proses tertentu untuk mengurangi aroma amis.
Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sumber pangan lokal dapat dikembangkan untuk mendukung pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perikanan.
Produksi Lele Mina Candi 3 Capai Satu Ton Per Bulan
Produksi lele Mina Candi 3 di Kelurahan Candi, Kota Semarang, mencapai sekitar satu ton setiap bulan. Budidaya tersebut dikembangkan secara produktif dengan memanfaatkan enam kolam aktif yang dikelola oleh anggota kelompok.
Setiap kolam mampu menampung sekitar 10 ribu ekor lele. Untuk menjaga pertumbuhan ikan, perawatan dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Pengelolaan kualitas air juga menjadi perhatian dalam proses budidaya.
Air kolam dikurangi secara berkala untuk membantu mengendalikan kadar amonia. Setelah kondisi air dikelola, ikan kembali diberi pakan sesuai kebutuhan. Proses perawatan tersebut dilakukan secara rutin untuk menjaga kondisi ikan hingga siap dipanen.
Dalam satu bulan, Mina Candi 3 mampu menghasilkan sekitar satu ton lele. Panen dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan dan permintaan. Hasil produksi tidak hanya dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga dipasarkan ke sejumlah restoran.
Pemasaran hasil panen kemudian diperluas melalui kerja sama dengan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP). Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses pasar bagi hasil budidaya lele kelompok.
Saat ini, Mina Candi 3 beranggotakan 11 orang. Kegiatan budidaya juga melibatkan warga lanjut usia sehingga tidak hanya menjadi kegiatan ekonomi, tetapi turut menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Candi.
Dukungan Budidaya Lele Masih Dibutuhkan
Pengembangan Mina Candi 3 mendapat dukungan dari Dinas Perikanan pada 2024 berupa kolam budidaya, benih lele dan pakan.
Namun, keberlanjutan produksi masih membutuhkan dukungan, khususnya untuk penyediaan benih dan pakan. Agus mengatakan biaya pakan menjadi salah satu komponen terbesar dalam budidaya lele.
“Lebih dari 70 persen biaya budidaya untuk pakan. Kami berharap ada bantuan benih dan pakan,” kata Agus.
Ia berharap dukungan serupa dapat diperluas ke wilayah Kecamatan Candisari maupun kelompok budidaya ikan lainnya di Kota Semarang.
Kolaborasi Posyandu dan BKKBN Diperkuat untuk Percepat Penurunan Stunting
Kolaborasi Posyandu dan BKKBN dinilai memiliki peran penting dalam mempercepat penurunan stunting di Kota Semarang. Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Ir. Rusman Effendi, mengatakan sinergi kedua layanan tersebut dapat memperkuat pendampingan bagi keluarga dan anak.
Kolaborasi dilakukan salah satunya melalui program Bina Keluarga Balita (BKB). Posyandu berperan dalam memantau pertumbuhan anak, sementara program BKKBN turut memberikan perhatian terhadap perkembangan anak serta pembinaan keluarga. Sinergi tersebut diharapkan membuat pelayanan kepada keluarga menjadi lebih menyeluruh.
Setelah meninjau Posyandu 6 SPM Wijaya Kusuma dan budidaya lele Mina Candi 3, Eddy Cahyono Sugiarto bersama Budi Setiyono melanjutkan agenda sosialisasi pembinaan penyuluhan KB/PLKB dan Tim Pendamping Keluarga.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi lintas program dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Pendampingan keluarga, pemantauan tumbuh kembang anak, serta edukasi menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.
Melalui penguatan peran Posyandu, BKKBN, penyuluh KB/PLKB, dan Tim Pendamping Keluarga, pelayanan kepada keluarga diharapkan semakin terintegrasi. Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendukung upaya penanganan stunting secara berkelanjutan di Kota Semarang.
Data Stunting Jawa Tengah Jadi Perhatian
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, sekitar 178.600 anak tercatat mengalami stunting.
Data penimbangan Agustus 2026 mencatat sejumlah daerah dengan angka stunting yang masih menjadi perhatian, antara lain :
- Wonosobo : 17,67 persen atau 8.043 anak.
- Purworejo : 16,51 persen.
- Banjarnegara : 15,11 persen.
- Magelang : 15,09 persen.
- Tegal : 14,55 persen.
- Kota Semarang : 4,26 persen atau 3.158 anak.
Data tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan intervensi dan memastikan program penanganan stunting menyasar kelompok yang membutuhkan.
Posyandu Didorong Semakin Terintegrasi untuk Percepat Penanganan Stunting
Posyandu didorong semakin terintegrasi dalam mendukung percepatan penanganan stunting di tingkat kelurahan. Kunjungan pemerintah pusat ke Kelurahan Candi menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting membutuhkan kolaborasi berbagai sektor, mulai dari Posyandu, BKKBN, MBG 3B, sanitasi, perumahan, pendidikan hingga ketahanan pangan.
Posyandu menjadi salah satu titik pelayanan masyarakat yang berperan dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Di sisi lain, budidaya lele Mina Candi 3 menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi juga dapat memanfaatkan potensi pangan lokal. Hasil budidaya warga tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi turut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan anak.
Penguatan Posyandu, integrasi data, serta pemanfaatan potensi pangan lokal menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya penurunan stunting. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pelayanan dan pendampingan kepada keluarga dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dengan pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat dan dukungan data yang terintegrasi, Posyandu diharapkan semakin mampu menjalankan peran strategis sebagai ujung tombak pelayanan dasar sekaligus mendukung percepatan penanganan stunting di tingkat kelurahan.
Kesimpulan
Upaya percepatan penanganan stunting di Kota Semarang membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan melibatkan berbagai sektor. Posyandu menjadi salah satu ujung tombak karena memiliki akses langsung kepada masyarakat untuk memantau pertumbuhan anak, memberikan edukasi, serta mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dan gizi keluarga sejak dini.
Penguatan Posyandu perlu didukung oleh integrasi data lintas sektor, kolaborasi dengan BKKBN, penyuluh KB/PLKB, Tim Pendamping Keluarga, serta keterhubungan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B. Penanganan stunting juga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi mencakup sanitasi, air bersih, lingkungan, perumahan, pendidikan, dan pemberdayaan keluarga.
Di Kelurahan Candi, pemanfaatan budidaya lele oleh Pokdakan Mina Candi 3 menunjukkan bahwa potensi pangan lokal dapat menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat. Produksi sekitar satu ton lele per bulan, termasuk yang dimanfaatkan untuk 18 anak penerima manfaat, menjadi contoh kolaborasi antara ketahanan pangan masyarakat dan penanganan stunting.
Dengan demikian, percepatan penurunan stunting memerlukan sinergi antara pelayanan kesehatan berbasis Posyandu, data yang terintegrasi, pendampingan keluarga, serta pemanfaatan potensi pangan lokal. Kolaborasi yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat penanganan stunting hingga tingkat kelurahan.